
PROTESA bukan hal baru di dunia medis. Sudah banyak orang yang menggunakan protesa sebagai pengganti mata asli yang terpaksa diangkat karena alasan medis. Tapi tidak banyak orang yang ahli memasang mata palsu.
Di Surabaya sendiri baru ada tiga orang yang memiliki keahlian itu. Salah satunya Sahadi.
Pekerjaan sebagai pembuat dan pemasang mata palsu tidak pernah terlintas dalam angan-angan pria asli Pare, Kediri, tersebut. Ia bergabung di RSUD dr Soetomo pada 1986 sebagai tenaga tata usaha (TU) di Bagian Penyakit Mata. Pekerjaan itu disesuaikan dengan latar belakang pendidikannya yang hanya lulusan SMEA. Namun, nasib mengantarnya ke jalan yang berbeda.
Menurut Sahadi, pekerjaan sebagai pembuat dan pemasang protesa berawal ketika ia ditunjuk menggantikan petugas sebelumnya, Tugiman, yang pensiun. ’’Almarhum Prof Nana menunjuk saya sebagai pengganti. Saya kemudian disekolahkan di RS Mata Undaan untuk belajar membuat dan memasang protesa,” katanya.
Sahadi tidak paham betul alasan mengapa dirinya yang ditunjuk menggantikan Tugiman. Ia hanya menduga penunjukkan dirinya karena tidak banyak tugas yang dilakukannya sebagai pegawai TU. Sebagai bawahan, Sahadi pun hanya menuruti apa kata atasan dan mengikuti pendidikan di RS Mata Undaan.
Kurang dari setahun, ia menyelesaikan pendidikan dan kembali ke RSUD dr Soetomo. Tepatnya pada 1988. Sejak itu, ia pun bertugas membuat dan memasang protesa pasien yang dirujuk ke RSUD dr Soetomo. Saat kali pertama praktik langsung memasang mata palsu pada pasien, Sahadi mengaku takut.
’’Saya takut nanti ada apa-apa dengan pasien waktu protesanya dipasang,” ujar Sahadi. Beruntung, pria kelahiran 7 September 1961 ini tidak menemui kendala saat pertama kali memasang protesa.
Seiring berjalannya waktu, ia juga makin ahli dalam memasang mata palsu. Namun ia mengakui, memasang mata palsu bukan hal yang mudah.

Di tiap pemasangan, Sahadi mengaku butuh waktu 2-3 jam. Waktu yang dibutuhkan cukup lama karena protesa yang dipasang harus pas benar dengan rongga mata. Selain itu, kadang kala pasien merasa takut ketika hendak dipasang protesa.
Pemasangan protesa sendiri tanpa didahului pembiusan. Sahadi hanya menggunakan cairan untuk menahan rasa sakit. ’’Biasanya cairan saya teteskan dulu sebelum memasang protesa,” katanya.
Selama lebih dari 20 tahun menjadi petugas pemasang protesa, Sahadi mengaku tidak pernah menerima protes dari pasien. Memang kadang ada yang mengeluhkan soal bentuk fisik mata palsu. Tapi semuanya masih sebatas keluhan biasa.
Sebelum memasang protesa, Sahadi juga selalu menekankan pada pasien kalau sebuah mata palsu tidak bisa sama persis dengan yang asli. Meski demikian, ia tetap berusaha membuatnya mirip seperti aslinya. ’’Bagaimana pun, buatan manusia tidak bisa menyamai ciptaan Tuhan,” katanya.
Selain memasang, bapak tiga anak ini juga membuat sendiri protesa untuk para pasien. Biasanya, pasien yang datang diukur dulu matanya. Berdasarkan ukuran yang ada, Sahadi membuat sendiri protesa yang memakai bahan acrylic. Ia pula yang melukis warna mata berikut pembuluh darahnya menyesuaikan dengan mata yang asli. ’’Jadi pekerjaan ini ada unsur seninya juga,” katanya.
Di luar pendidikan di RS Mata Undaan, Sahadi mempelajari semuanya secara otodidak berdasarkan pengalaman selama menangani pasien. Awalnya, protesa buatannya hanya berbentuk bulat biasa. Ketika dipakai, protesa ini sering berputar sendiri hingga posisinya tidak sama dengan yang asli.
Sahadi pun mencari tahu mengapa mata palsu buatannya bisa berputar. Setelah melihat ke dalam rongga mata, ternyata ada lekukan di dalamnya. Protesa yang ada kemudian diperbaiki dan dibentuk menyesuaikan rongga mata pasien. Semua itu dilakukan Sahadi tanpa mempelajari anatomi mata manusia. Ia hanya menyesuaikan dengan rongga mata masing-masing pasien. ’’Bentuk protesa masing-masing pasien berbeda, sesuai rongga matanya,” kata Sahadi.
Tarif
Tentang tarif pembuatan dan pemasangan protesa, kata Sahadi, satu protesa dikenakan biaya sekitar Rp 500 ribu. Biaya juga tergantung ukuran protesa serta lapisan yang digunakan.
Sahadi mengaku, saat ini tidak banyak orang yang datang untuk memasang protesa. Pada 2009 saja, dalam sebulan hanya ada 1-2 orang. Padahal pada 2006-2007, hampir tiap hari ada orang yang minta dipasang protesa. Menurunnya jumlah itu disebabkan di kota-kota lain sudah ada orang yang bisa memasang protesa. Salah satunya di Malang. ’’Dulu pasien dari NTB sampai datang ke sini untuk memasang protesa,” ujarnya.
Menurunnya jumlah pemasang protesa tidak disesali Sahadi. Jika sedang sepi, ia tetap membantu tugas TU seperti mengantar surat atau status pasien di RSUD dr Soetomo.
Sahadi tidak tahu sampai kapan ia akan menekuni profesi ini. Meski tidak sesuai dengan disiplin ilmunya selama sekolah, alumnus SMEA Pare ini mengaku menikmati pekerjaan sebagai pemasang protesa.
Berkat keahliannya tersebut, Sahadi kerap diminta dokter mata di Surabaya maupun Pare, Kediri, untuk membuat mata palsu. Termasuk pemasangannya. Ia bahkan pernah ditawari bergabung di Surabaya Eye Clinic (SEC) dengan jam kerja setelah jam kerja di RSUD dr Soetomo.
Tawaran itu ditolaknya karena ia harus pulang ke Pare, Kediri, setiap hari. Ia tidak mau pulang terlalu malam karena jam kerja di SEC hingga pukul 20.00. ’’Tapi saya siap jika sewaktu-waktu diminta datang ke SEC untuk memasang mata palsu selama tidak ada pekerjaan di sini (RSUD dr Soetomo, red),” kata Sahadi.
Tidak Bahaya
Salah satu dokter spesialis mata di RSUD dr Soetomo, Prof Dr Diany Yogiantoro SpM(K), selalu menyarankan pasiennya yang bola matanya diangkat untuk memakai protesa. Selain faktor estetika, protesa diperlukan untuk menjaga agar mata tidak menutup dan kemudian ambles.
’’Dari segi medis, protesa sama sekali tidak membahayakan,” kata Diany.
Cara pemasangan tanpa melalui pembiusan juga dinilai tidak berbahaya. Pasalnya, nantinya pasien juga harus bisa memasang dan melepas sendiri. Menurut Diany, protesa sebaiknya tidak dipakai saat sedang tidur.
Richul Munawaroh, salah satu pemakai protesa mengaku juga tidak pernah menemui masalah dengan protesa yang dipakainya. Bocah berusia 9 tahun ini memakai protesa sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Karena alasan medis dan demi keselamatan nyawa, bola mata Richul harus diangkat dan diganti dengan protesa.
’’Anak saya merasa nyaman saja meski menggunakan protesa,” kata ibu Richul, Elis Mujiati, ketika ditemui di RSUD dr Soetomo, Selasa (23/3) kemarin.
Wanita asal Prambon, Sidoarjo, ini mengatakan, anaknya tidak pernah merasa minder meski memakai protesa. Ia juga tetap bisa sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Protesa yang dipakai juga tidak berbeda dengan mata aslinya. *
Sumber:http://www.surabayapost.co.id/? nu=berita&act=view&id=96bc8d56d2c46ae760d228e70af6f606&jenis=b706835de79a2b4e80506f582af3676a&PHPSESSID=1a9132202f8ed7fcefc271e0d0ddd05f
0 comments:
Poskan Komentar