Ads

6 Mei 2010

Macam-macam Layangan Khas Indonesia

Bagikan:

Layang2 Pepetengan, Jawa Barat


Seperti halnya daerah-daerah bersistem mata pencaharian agraris lainnya di Indonesia, di Jawa Barat kehadiran layang-layang juga lebih berfungsi untuk menjaga sawah. Melalui bunyi dan motif hiasan didalamnya, Pepetengan diterbangkan berhari-hari untuk menghalau hama burung yang mengganggu tanaman padi.

Layang2 Jatayu, Jawa Tengah



Layang2 Sumbulan, Jawa Tengah


Sumbulan memiliki arti mudah terbang. Menurut legenda, layangan ini dibuat oleh seorang seniman kerajaan Majapahit bernama Surena yang bertugas menyelesaikan pembuatan patung permaisuri sambil melayang di udara dengan mengendarai layangan Sumbulan. Ia kemudian dikhianati oleh punggawa kerajaan Majapahit, akhirnya ia hilang bersama layangannya entah dimana. Legenda inilah yang hingga kini hidup di tengah masyarakat. Dari tahun ke tahun, sumbulan tetap hidup di tengah masyarakat dan diwariskan pembuatannya dari generasi ke generasi. Entah dulunya dibuat dari bahan apa, saat ini sumbulan dibuat dengan menggunakan bahan kain. Sedangkan talinya, masih dibuat dari serat pohon kacang-kacangan, yang kulit pohonnya dikuliti, kemudian dipilih perlahan-lahan. Sumbulan ini dibuat dalam ukuran besar, dan hanya diterbangkan oleh kaum dewasa.

Layang2 Janggan, Bali
Rata Tengah

Layang2 Janggan, Bali


Dari ketiga jenis layangan Bali, Janggan adalah yang terbesar. Ukurannya yang mencapai 5 x 10 meter dan panjang ekornya yang mencapai 100 meter, membuatnya begitu gagah saat dia menembus angkasa. Kepala naga yang menjadi bagian teratas dari layangan, seolah ia hidup dan menari di angkasa. Banyak perlakuan khusus yang diperlukan untuk kepala naga pada jaggan ini. Pura adalah tempat ia disimpan saat tidak digunakan berlayang, dan baru dikeluarkan saat akan upacara pen-sucian layangan akan dimulai, 2 hari menjelang acara pesta layang-layang Bali.

Layang2 Daun, Lampung


Terbuat dari daun kelopek yang dikeringkan cara pembuatan layang-layang Sebelum dibuat, daun kelopek dikeringkan, diasapi, dan dijemur selama empat hari. Setelah agak mengering, daun ditata dan direkatkan satu per satu di bingkai bambu sehingga menjadi layang-layang besar. Layang-layang daun kelopek bukan sekadar layang-layang. Di balik itu, sebenarnya tersimpan cerita tersendiri. terdapat gua yang memiliki gambar lukisan layang-layang dari getah daun. Lukisan ada di dinding gua. Diperkirakan, lukisan itu sudah ada sejak zaman prasejarah. Penemuan itu menunjukkan layang-layang sudah lama ada di Indonesia. Layang-layang menjadi permainan tradisional turun-temurun di banyak tempat atau kelompok masyarakat di Indonesia.

Layang2 Siger, Lampung


Layang-layang Siger yang cantik ini, terbuat dari kain parasut yang dilukis dengan cat berwarna biru laut, dan dibubuhi bubuk-bubuk berwarna emas pada gambar motif ditengahnya.
Sebenarnya bentuknya mirip dengan daerah lain, tapi yang membedakan itu bentuk kepala, motifnya, dan ekornya. Ini khasnya Lampung, kepalanya melingkar meniru bentuk sengat binatang ngengat. Dan motifnya ini adalah bentuk mahkota pengantin perempuan Lampung. Nama mahkotanya itu, Siger.
Menurut tradisi di sana layang-layang digunakan sebagai alat bantu untuk memancing ikan. Ada jenis layang-layang lain selain Layang-layang Siger. Ukurannya tak terlalu besar. Layang-layang ini pada awalnya, terbuat dari daun Loko-loko, sejenis tumbuhan pakis. Daun ini diikatkan pada rangka dari bambu.
Diterbangkan untuk membawa umpan pancingan lebih jauh dari kapal. Jika layang-layang ini bergerak dan getaran benangnya terasa hingga ke tangan nelayan, berarti ujung umpan telah menjerat ikan. Sekarang, tradisi ini masih berjalan. Bahan dari daun Loko-loko diganti menjadi plastik. Tujuannya agar layang-layang tak mudah rusak bila terkena air laut.

Layang2 Burung Enggang, Kalimantan Timur


Layang2 Burung Enggang, Kalimantan Timur


Burung enggang/ Rangkong kita sering menyebutnya. Burung ini menyimbolkan suku dayak layaknya burung Merpati menyimbolkan kesucian dan keabadian dalam keagamaan Kristiani. Karena itu pula, burung enggang ini dijadikan sebagai contoh kehidupan bagi orang dayak untuk bermasyarakat agar selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya dan mengasuh anak mereka hingga menjadi seorang dayak yang mandiri dan dewasa. Namun sekarang ini burung enggang merupakan burung langka yang sudah sangat sulit di temui di hutan borneo, ini dikarenakan pengerusakan hutan borneo yang terus-menerus terjadi, seperti penebangan hutan baik illegal logging maupun untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit. Nasib burung enggang ini sekarang sama seperti nasib suku Dayak di borneo yang semakin terpinggirkan di tanahnya sendiri. Sekarang burung ini hanya sebagai simbol dan hanya dapat dilihat dalam suatu rekaman gambar yang menunjukkan masa kejayaannya dimasa lampau. Burung ini hanya dapat dilihat sebagai simbol yang dilukiskan berupa motif seperti pada gambar ini. Kasihan sekali nasib mereka. Sebagian yang tersisa darinya hanya sebuah gambar dan segelintir bagian paruh dan bulu yang tetap di simpan rapi oleh masyarakat suku dayak.

Layang2 Khagati, Sulawesi Tenggara


KHAGATI adalah jenis layang-layang yang unik. Ia dapat dikategorikan sebagai layang-layang purba karena dibuat dari bahan yang berbeda dari layang-layang pada umumnya. Jika layang-layang biasa dibuat dari kertas, khagati terbuat dari daun.

Mengapa disebut layang-layang purba? Karena seluruh bahannya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kerangkanya terbuat dari bambu, sementara badannya terbuat dari daun umbi gadung. Benangnya terbuat dari serat daun pandan duri.

Layang-layang khagati sering ditampilkan di berbagai festival layang-layang internasional. Karena keunikannya inilah, layang-layang khagati menjadi perhatian banyak orang. Memang unik. Di zaman sekarang ini ada layang-layang yang terbuat dari 100 persen tumbuhan.

Bukti bahwa layang-layang khagati adalah produk manusia purba dapat dilihat pada dinding-dinding gua. Manusia purba hisup di dalam gua-gua. Mereka belum mengenal aksara. Namun sudah tahu cara menggambar. Mereka melukiskan aktivitas mereka pada dinding dan ceruk gua.

Pada ceruk-ceruk di tebing bukit itulah didapati gambar orang bermain layang-layang. Itu artinya, manusia purba yang menetap di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, telah menerbangkan layang-layang sejak ribuan tahun bahkan puluhan ribu tahun silam.
Khagati selalu dibuat setelah musim tanam. Pada badannya dipasangi alat penyeimbangan yang menghasilkan suara keras. Alat ini dibuat dari kulit ari pohon waru. Suara itu akan membuat takut babi hutan pengganggu tanaman.

Layang2 Kajang Lako, Jambi


Layang2 Kajang Lako, Jambi


Kajang lako merupakan salah satu rumah adat yang ada di Jambi. Selain rumah Kajang Lako juga merupakan nama perahu yang digunakan oleh Raja atau penguasa Negeri yang di iringi oleh pengawal dan rombongan lainnya untuk berleko – leko berarti santai, bersenang – senang, atau melakukan perjalanan inspeksi kedaerah – daerah bawahan.

Layang2 Doro Keplok, Jawa Tengah


Layang2 Tapean, Jawa Timur


Layang2 Goang, Sumbawa


Layang2 Dengung, Batam


Layang2 Musayeub, Aceh


Layang2 Dandang Laki, Kalimantan Selatan


Layang2 Dandang Bini, Kalimantan Selatan


Layang2 Pengantin Banjar, Kalimantan Selatan


Layang2 Perisai, Kalimantan Timur



Layang2 Perahu Phinisi, Sulawesi

1 comments:

unik,layangan akan terlihat indah jika sudah mengapung di udara,..

Berikan Komentar Anda:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...