Ads

8 Januari 2011

Belajar Mencintai Ala Pangeran William dan Kate

Bagikan:


Keputusan ahli waris kedua tahta Kerajaan Inggris, Pangeran William, untuk bertunangan dengan kekasihnya, Kate Middleton, boleh jadi mengecewakan banyak perempuan. Tak perlu iri menyaksikan kemesraan hubungan pasangan muda ini. Anda dan pasangan juga bisa mewujudkan kemesraan serupa, menyontek gaya William dan Kate yang diketahui mulai berkencan sejak 6-7 tahun silam.

Pelajaran utama dari hubungan keduanya adalah meberikan kebebasan ruang dan waktu bagi pasangan. Dengan cara inilah William dan Kate saling menguatkan ikatan hubungannya.

Tak perlu terburu-buru
Santai saja menikmati hubungan dan tak perlu terburu-buru dalam mewujudkan keinginan. Inilah yang terjadi pada William dan Kate.

Kate dan William sudah saling mengenal sejak tahun 2001, ketika kuliah di St Andrews University. Sosok Kate pertama kali menarik perhatian Sang Pangeran ketika tampil dalamfashion show untuk amal di kampusnya. Kate saat itu tampil mengenakan gaun lace hitam yang tembus pandang, menampakkan bra dan bikini hitamnya. Meskipun demikian, mereka tak langsung berkencan. Saat itu Kate masih berpacaran dengan mahasiswa lain, Rupert Flinch, sedangkan William dekat dengan seorang temannya, Jecca Craig. Tak diketahui secara pasti kapan William jadian dengan Kate. Ada yang bilang mereka mulai berpacaran saat Natal 2003. Namun sumber lain mengatakan kisah cinta mereka terungkap ketika mereka bermain ski bersama di Klosters, Swiss, Maret 2004.

Meski sudah lama berpacaran, William dan Kate tak terburu-buru untuk menikah. "Saya tidak mau menikah hingga usia saya 28 atau mungkin 30 tahun," kata pria bernama lengkap William Arthur Philip Louis yang lahir di Britania Raya, 21 Juni 1982, ini.

Memberikan kebebasan ruang dan waktu untuk pasangan
Bukan waktu singkat bagi William dan Kate untuk saling mengenal. Pasangan ini bahkan sempat putus pada 2007 dan kemudian bersatu kembali. Kebersamaan dalam waktu yang lama, serta pengalaman sempat terpisah justru membuat pasangan ini semakin kuat. Perjalanan cinta pasangan ini seperti ingin membuktikan, membebaskan pasangan menikmati waktu untuk dirinya justru menguatkan ikatan cinta.

Tak mempedulikan kata orang
Adalah tekanan dari media yang membuat hubungan William dan Kate sempat putus pada 2007 lalu. Merespons hal ini, Pangeran Charles juga menegur William karena tidak menunjukkan komitmen dengan melamar Kate. Boleh jadi Kate juga frustrasi dan mempertanyakan komitmen William yang sesungguhnya. Namun, William adalah sosok pria yang punya pandangan kuat atas pilihan sikapnya. Komitmen hubungan tak ingin ditunjukkannya hanya dengan menyematkan cincin di jari Kate. Setelah perpisahan ini, William justru memberikan waktu lebih banyak untuk bersama Kate. Keputusan pasangan ini untuk tak buru-buru menikah juga menuai kritik dari Ratu Inggris. Seakan tak peduli, pasangan ini tetap menjalani hubungan apa adanya, tanpa memaksakan diri mengikuti keinginan atau harapan banyak pihak. Karena William dan Kate tahu, mereka lah yang lebih memahami hubungan keduanya, dan kapan waktu yang tepat untuk memutuskan menikah.

Saling memberdayakan
Hubungan William dan Kate bertolak belakang dengan hubungan yang dijalin mendiang Putri Diana dan Pangeran Charles. Kate adalah sosok perempuan mandiri, cerdas, penuh ambisi, juga sporty. Sepanjang hidupnya, Kate menjalani semua hal atas keinginan dan kemampuannya sendiri. Kate bukan tipe perempuan yang bersembunyi di balik laki-laki atau bahkan menggantungkan hidupnya kepada laki-laki. Saat William menjalani latihan militer, Kate punya kesibukan sendiri. Perempuan yang lebih tua enam bulan dari William ini mengejar kariernya sebagai fashion buyer dari toko ritel Jigsaw. Sikap ini menunjukkan kemandirian Kate secara finansial yang tak hanya ingin mengandalkan fasilitas kerajaan. Baik William dan Kate, menghargai keputusan masing-masing, dalam mengejarpassion dalam hidup mereka. Menunjukkan bahwa pasangan juga perlu saling mendukung untuk memberdayakan satu sama lainnya.

Percayalah pada intuisi
Kisah cinta William dan Kate memang penuh inspirasi. Tak seperti kebanyakan kalangan kerajaan, William percaya dengan kata hati dan apa yang dianggapnya benar. Baginya, bukan soal jika harus berpasangan dengan perempuan dari kalangan biasa. Seperti perempuan pilihannya, Kate, yang bukan keturunan darah biru. William dan Kate mungkin tak pernah bermaksud mengajari, namun keputusan bertunangan yang diumumkan keduanya akhir 2010 lalu memberikan pelajaran berharga. Bahwa menemukan cinta sejati tak harus dibatasi dengan status sosial. Tetapi lebih kepada panggilan hati dan meyakini intuisi bahwa pasangan yang telah dipilih adalah cinta sejatinya. Sekaligus menyadari sepenuhnya, hal yang membuat Anda bahagia adalah pilihan personal yang tak bisa diganggu gugat aturan manapun.

Memperlakukan pasangan secara terhormat
Kekuasaan yang dimiliki Pangeran William memungkinkan pria berwajah tampan ini bebas melakukan apa saja. Menjadi sosok pria playboy sangat mudah dilakukannya. Namun tidak bagi William yang bersikap sebagai pria bermartabat. Termasuk dalam menjalin hubungan dengan Kate.

Memperlakukan pasangan dengan cara terhormat ditunjukkan William dengan berbagai cara. Memberikan kebebasan kepada Kate untuk mengembangkan diri, termasuk kariernya. Selain juga memanjakan Kate dengan menikmati libur bersama untuk menghangatkan hubungan keduanya. Sikap seperti inilah yang menumbuhkan rasa saling menghormati. Kate juga memperlakukan William serupa. Memberikan kebebasan kepada pasangannya melakukan hal yang disukainya.

Gelar pria terhormat yang melekat pada diri William rupanya bukan hanya karena ia pewaris tahta kerajaan, namun juga muncul dalam sikapnya. Saat memutuskan melamar Kate, William menggunakan gaya kuno yang romantis. William mendatangi ayah Kate untuk meminta ijin dan melamar Kate sebagai calon istrinya. Kemudian William melamar Kate dengan menekuk lututnya dan memberikan cincin pertunangan kenangan dari ibunya, Putri Diana. Perempuan mana yang tak luluh hatinya dengan perlakukan istimewa semacam ini? Bukan sekadar bicara ritual romantisme belaka, namun lebih kepada penghargaan seorang lelaki kepada perempuan yang dipilihnya menjadi istri dan calon ibu dari anak-anaknya nanti.

0 comments:

Berikan Komentar Anda:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...