Ads

6 Desember 2012

Sebelum Menikah, Kenali Dulu Rhesus untuk Keturunan (PENTING)

Bagikan:





Sekedar berbagi dan bagian dari sosialisasi rhesus negatif di Indonesia mengingat pentingnya kita mengetahui rhesus, apalagi bagi wanita yang ber Rhesus negatif dan akan menghadapi kehamilan agar kehamilan nya tidak beresiko yg mengakibatkan fatal, oleh krn itu wawasan / informasi ttg rhesus wajib diketahui.

Ini hanya saran untuk calon Pasutri yang ingin melangsungkan kejenjang pernikahan. Ada baiknya saat memilih Istri atau suami jangan hanya mengandalkan cinta semata. Akan tetapi juga harus dikenali lebih awal menyangkut dengan Rhesus dan golongan darah.

Rhesus merupakan sistem penggolongan darah. Sama seperti misalnya golongan A, B, AB dan O. Sedangkan Rhesus itu ada dua macam, yaitu Positif dan Negatif. Bila ingin mengetahui apakah Rhesus negative atau Positif, maka segera berkonsultasi pada dokter.

Bila calon Pasutri tidak memperhatikan Rhesus akan sangat berpengaruh rentannya pada kehamilan Ibu, dan anak pun akan sangat rentan terserang Anemia. "Pengaruhnya jika suami Rh+ dan Istri Rh-, kemudian hamil dan bayi ikut Rh ayah. Jadi, hamil pertama tidak masalah, namun bermasalah ketika hamil berikutnya," jelas Natalina.



KENALI RHESUSMU adalah kalimat yang sangat bermakna dalam perjalanan hidup saya dan keluarga. Kalimat yang seharusnya terdengar sebelum pernikahan.

Mengapa kalimat itu sangat bermakna? 

Berikut kisahku:

4 Nopember 2001 kami melangsungkan pernikahan, dan dikaruniai anak pertama anak lelaki sehat pada Agustus 2002, tidak ada masalah yang kami temukan baik saat proses kehamilan maupun saat melahirkan.

Pada tahun 2003 saya mengandung anak ke 2, dan kamipun melakukan pemeriksaan sebagaimana yang kami lakukan pada anak kami pertama.

Memasuki usia kehamilan trimester ke 3, saya mulai merasakan sesuatu yang berbeda jika dibandingkan dengan kehamilan pertama seperti kaki bengkak jika terlalu lama duduk, dan perut mengeras (seperti kontraksi) jika terlalu banyak berjalan. Namun kami tetap berpikiran positif, “mungkin ini hanya bawaan dari si jabang bayi saja”.

Saat pemeriksaan rutin kandungan pada minggu ke 27, hasil USG menunjukkan ukuran janin sama dengan hasil USG pada minggu ke 25 (janin tidak berkembang). Atas kondisi ini, saya di rujuk untuk ke RSCM. Kemudian, dari hasil pemeriksaan dengan menggunakan USG 4 dimensi dan analisis dokter diketahui terdapat kelainan pada janin yaitu terdapat cairan asites di perut dan sekat jantung yang tidak tertutup (bocor).

Untuk menjaga jika kelahiran bayi bermasalah, saya dirujuk untuk melahirkan di RS yang memiliki NICU (Neonatal Intensive Care Unit), yang kebetulan tidak ada di kota saya. Namun, belum genap 9 bulan usia kehamilan (minggu ke 32), si janin sudah memberikan tanda-tanda ingin dilahirkan, akhirnya kami pun pergi ke RS yang menjadi rujukan.

Setelah melihat kondisi kehamilan serta hasil diagnosis dan hasil USG 4 dimensi dari RSCM, dokter yang menangani mengharuskan kami (saya & suami) untuk melakukan pemeriksaan darah dan rhesus, dokter tersebut mencurigai ada sesuatu yang berbeda pada diri kami. Hasil pemeriksaan darah dan rhesus menunjukkan saya memiliki RHESUS NEGATIF. Dokter mengatakan kondisi kehamilan dan tanda lainnya yang diperoleh dari hasil diagnosis di RSCM adalah pertanda ada perbedaan antara jenis darah si ibu dan darah bayi yang dikandungnya.

Setelah itu, agar tidak terjadi permasalahan dikehamilan berikutnya, dokter meminta kami untuk membeli suntikan yang harus diberikan kepada si ibu paling lama 72 jam setelah melahirkan. setelah mencoba mencari dibeberapa apotik terkenal di sekitar Jakarta akhirnya kami pun menemukan RHOGAM tersebut dan saat itu hanya tinggal satu di apotik tersebut.

Sehari setelah dilakukan perawatan di RS tersebut, tepatnya pada tanggal 11 September 2004 anak perempuan kami pun lahir, tanpa ada suara tangis, tubuh sangat kuning/jaundice, dan seluruh badan membengkak karena dipenuhi cairan/asites (Foto 1). Walaupun dokter telah berusaha memberikan pertolongan, ternyata sang pencipta berkehendak lain, anak kami hanya mampu bertahan kurang dari 2 jam di dunia ini. Sedih rasanya setelah sekian lama mengandung dan menanti kelahiran anak perempuan yang kami idamkan, ternyata kami pulang dari RS dengan tangan hampa, Kehadiran dan canda tawa anak pertama saya yang tumbuh sehatlah yang bisa memperkuat pertahanan bathin saya saat itu.


Pada tahun 2005, saya hamil anak ke 3. Agar proses kehamilan dan kelahiran anak kami berjalan lancar, kami memilih Dr. Spog yang kebetulan profilenya ada di sebuah majalah wanita yang membahas keberhasilannya dalam menolong kelahiran wanita yang berhesus negatif. Alhamdulillah dokter tersebut ternyata juga praktek di RS dimana saya melahirkan anak ke 2.

Untuk menjaga kondisi kandungan dan janin, saya melakukan treatment yang dianjurkan dokter yaitu test coomb’s (untuk mengetahui kadar titer darah) dan disuntik rhogam pada usia kehamilan memasuki 27 minggu.

Ada sedikit kendala saat saya hamil ke 3, suntikan Rhogam ternyata sedang hilang dipasaran, berminggu-minggu suami saya berkeliling dari satu apotik ke apotik lain, apotik besar maupun kecil, meminta bantuan kepada teman-temannya di berbagai daerah dan sempat juga mendatangi BPPOM Kementerian Kesehatan, namun Rhogam tetap tidak ada.

Ada kabar dari teman suami, Rhogam ada di salah satu RS di Singapore, tapi saya harus menjadi pasien RS tersebut terlebih dahulu baru Rhogam bisa diberikan, Rhogam tersebut tidak bisa dibeli langsung dan dibawa ke Indonesia. Kami mulai berhitung berapa biaya yang harus dikeluarkan seandainya memang harus ke Singapore.

Kira-kira saat usia kehamilan memasuki minggu ke 24, ada kabar baik datang dari salah satu RSUD, mereka punya stock Rhogam. Alhamdulillah, suami sayapun langsung mendatangi RSUD tersebut untuk membeli Rhogam. Tepat di usia kehamilan minggu ke 27, Rhogam tersebut disuntikkan ke tubuh saya.

Memasuki usia kehamilan 33 minggu, berdasarkan hasil USG dan diagnosis dokter, walaupun telah disuntik Rhogam ternyata masih ditemukan kelainan yaitu masih ada cairan/asites di perut dan jantung bayi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut saya melakukan intrauterine (transfusi darah gol O Rhesus negatif ke si Janin yang disuntikkan lewat perut ibu). Tindakan ini berhasil mengeluarkan seluruh cairan di perut bayi, namun tidak seluruh cairan di jantung berhasil dikeluarkan.

Pada usia kehamilan 37 minggu dimana menurut dokter usia kehamilan tersebut bayi sudah Fullterm (matang) dan bisa dilahirkan maka kami menyetujui untuk melakukan treatment kepada si bayi di luar kandungan. Dengan operasi cecar lahirlah anak laki-laki ke 3 kami, pada tanggal 16 Juli 2006 dan saat itu suntikan Rhogam kami dapatkan dari salah satu importir medical di Jakarta.

Sepertinya suratan takdir berkata lain, saat lahir tidak terdengar suara tangis yang kunanti-nantikan, walaupun sudah ditangani dokter ahli serta pertolongan maksimal dari tim medis anakku tetap tidak kuasa melawan takdirNYA. Jantung anakku bengkak (Foto 2) sehingga menutupi paru-parunya, dan akhirnya anak laki-laki kami hanya dapat bertahan dan merasakan keberadaannya di dunia ini selama + 1 ½ jam. Kembali saya pulang dari RS dengan tanpa hampa, tanpa bayi di gendongan saya. Sedih tetap menyelimuti, namun Life must go on dan rasa syukur harus selalu ada di hati, karena kami yakin Allah tahu yang terbaik untuk kami.


Januari 2007 saya terlambat menstruasi, saya deg-degan dan sungguh terkejut ketika melihat hasil testpack menyatakan positif. Enam bulan setelah kelahiran anak ke-3 saya harus menjalani kehamilan ke 4. Saya menerimanya dengan serba salah, bukan saya tidak mau menerima titipan Allah tersebut ada perasaan was-was dan khawatir ‘bisakah anak yang sedang saya kandung ini dilahirkan didunia dengan sehat selamat.

Untuk kehamilan ke 4 ini ada sedikit perbedaan treatment dengan anak ke 3. Suami saya menganalisis jangan-jangan pemberian Rhogam terlambat diberikan, karena walaupun sesuai teori suntikan pertama Rhogam diberikan pada minggu ke 27, bisa saja pada saat disuntikkan sebenarnya usia si janin sudah lebih dari 27 minggu. Analisis tersebut kemudian dikemukakan kepada dokter dan disetujui. Jadi untuk kehamilan ke 4, selain pemeriksaan rutin, Rhogam disuntikkan sebanyak 3 kali yaitu pada usia kehamilan 17 minggu, 27 minggu dan setelah melahirkan. Alhamdulillah pada kehamilan ini, Rhogam tidak sulit dicari.

Tangisan bahagia pun akhirnya dapat saya rasakan saat operasi caesar yang dilakukan pada tanggal 27 Agustus 2007 berjalan lancar dan walaupun bayi ini terlahir premature (usia 35 minggu), suara tangis yang saya nanti-nantikan terdengar begitu kencang, dan tanpa terasa air mata mengalir di kedua pipi saya. Saat ini anak ke 4 saya sudah berumur 4 tahunan dan dalam keadaan sehat wal afiat. (foto 3).


0 comments:

Berikan Komentar Anda:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...