Tenaga Nuklir Ramah Lingkungan


Seiring fenomena pemanasan global menjadi semakin nyata, tuntutan dari berbagai pihak kepada pemerintah untuk mencari solusi pembangkit listrik beremisi rendah mulai berdatangan. Namun dengan hampir tujuh miliar penduduk di seluruh dunia, kalangan ilmuwan pun menyangsikan kemampuan dari penggunaan ‘energi yang dapat diperbarui’ dapat memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat dari berbagai negara.

Perkembangan terbaru teknologi nuklir serta penelitian yang sedang berlangsung untuk meminimalkan risiko penggunaan tenaga jenis ini, telah memberikan sebuah pandangan baru dalam kemungkinan penggunaan tenaga nuklir.

Pada Februari lalu, perusahaan raksasa Microsoft mengumumkan kepada publik mengenai investasi puluhan juta dolar dalam menciptakan sebuah desain reaktor yang inovatif, yang merupakan bagian dari proyek “Philanthropic” Microsoft dalam menciptakan sejenis energi ajaib. Seminggu setelahnya, Presiden AS Barack Obama juga mengumumkan kepada publik bahwa pemerintah AS akan menyediakan pinjaman lebih dari 8 miliar dolar untuk membangun pembangkit tenaga nuklir, yang merupakan pembangunan pembangkit tenaga nuklir pertama setelah terjadinya bencana di pulau Three Mile pada 1979 silam. Pinjaman ini merupakan bagian awal dari proyek nuklir senilai 54,5 miliar dolar.

Kini, sejalan dengan tuntutan Puncak Pertemuan Keamanan Nuklir 2010, Obama telah menggariskan sejumlah masalah terkait pelucutan senjata dan pengendalian bahan nuklir melalui negosiasi internasional yang masih sedang berlangsung (Pakta Non-Proliferasi Nuklir - NPT).

Meskipun telah mengalami perbaikan besar dalam aspek keselamatan, penggunaan tenaga nuklir yang diduga kuat merupakan tenaga yang bebas karbon ini masih menghadapi dua kendala utama, yakni: penggunaan tenaga nuklir dapat menghasilkan limbah radioaktif yang baru dapat mati setelah melewati ribuan tahun, di samping itu, fenomena “pengeksploitasian uranium secara besar-besaran” sudah diprediksi, yang berarti pula dibutuhkan banyak minyak bumi dalam proses pengeksploitasiannya (seperti penambangan, pengolahan dan pembangunan konstruksi tambangnya). Maka dari itu, kehadiran uranium bukanlah merupakan jawaban yang bebas masalah maupun sebuah solusi jangka panjang.

Pada Maret lalu di Universitas Sydney, seorang ilmuwan NASA yang juga ahli perubahan iklim, Dr James Hansen, menekankan bahwa di negara-negara maju seperti Jerman, saat ini hanya mampu menghasilkan 7 persen energi terbarukan untuk menyuplai kebutuhan energi di negaranya. Sebagai dampaknya, kalangan industri pun mulai meninggalkan Jerman karena hal ini telah mengakibatkan naiknya harga listrik.

Hansen mengatakan bahwa di tujuh negara, termasuk Prancis dan China, telah memiliki keahlian dalam bidang nuklir dan telah mengembangkan teknologi reaktor nuklir mereka sampai tahap generasi IV (Gen IV) tanpa adanya kekurangan.

Namun begitu, Dr. Mark Diesendorf, yang juga penulis buku “Solusi Rumah Kaca dengan Energi Berkelanjutan” tidak yakin akan pernyataan ini. “Di samping tantangan utama dalam isu kemiskinan global dan ketidak-adilan, masih ada dua tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia dalam abad ke-21, yaitu perubahan iklim dan perang nukir. Sangatlah tidak masuk akal untuk menyelesaikan satu masalah dengan memperbesar kemungkinan lainnya.” ujarnya.

Dalam bukunya yang populer berjudul Sustainable Energy – Without the Hot Air (Energi Berkelanjutan – Tanpa Udara Panas), Dr. David MacKay secara komprehensif membahas sejumlah sumber energi ramah yang dapat digunakan berdasarkan perhitungan yang cermat. Dr. David MacKay kini bekerja di Departemen Fisika Universitas Cambridge, ia juga merupakan penasihat ilmiah utama Departemen Energi dan Perubahan Iklim di Inggris.

Dalam salah satu bab yang mengulas tenaga nuklir, MacKay mengamati masalah limbah radio aktif dan menyimpulkan: “Seribu tahun adalah waktu yang sangat lama jika dibandingkan dengan kemampuan hidup sebuah pemerintahan dan negaranya! Namun mengingat volume limbahnya yang sangat kecil, saya merasa limbah nuklir (radio aktif) hanyalah sebuah kekhawatiran kecil bila dibandingkan berbagai jenis limbah lainnya yang kita hasilkan bagi generasi mendatang.” Sementara dalam seksi lain mengenai perencanaan energi global yang efektif, MacKay menulis bahwa, “Untuk menyelesaikan permasalahan yang terus bertambah, kita perlu bergantung pada satu atau lebih bentuk energi yang dapat diperbarui seperti tenaga matahari, atau menggunakan tenaga nuklir, ataupun keduanya.“

Ketika penelitian MacKay lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan energi dengan cara yang kurang ekonomis, para peneliti lainnya mulai menyetujui pendapat Hansen mengenai permasalahan biaya yang tinggi untuk menghasilkan sumber energi terbarukan. Dr Barry Brook (Direktur Ilmu Iklim di Institut Lingkungan Universitas Adelaide) dalam tinjauannya mengenai masalah nuklir bersama Martin Nicholson (penulis buku Energy in a Changing Climate) baru-baru ini menyatakan: “Sumber energi terbarukan (seperti angin dan matahari) menggunakan lebih banyak bahan baku dalam menciptakan tiap unit energinya dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir yang telah ada sekarang. Di samping itu, energi ini juga menghasilkan emisi yang lebih tinggi dalam proses produksi dan penggunaannya.”

Uranium bukanlah satu-satunya reaktor bahan bakar yang berada dalam pengawasan. Ketika penelitian terhadap thorium mulai dilakukan kembali, terutama di negara India dan Rusia, reaktor thorium mulai mendapat perhatian kembali, dimana thorium dapat menghasilkan plutonium, dan thorium bisa “membakar” persediaan energi yang ada.

Namun begitu, menurut Asosiasi Nuklir Dunia, masalah yang melibatkan biaya tinggi dalam fabrikasi bahan bakar sebagai akibat kontaminasi isotop uranium dapat menghasilkan kemungkinan resiko dalam proliferasi senjata. Tapi menurut Kirk Sorensen (Advokat Thorium yang juga Insinyur NASA) uranium yang tidak stabil ini membuatnya mudah terdeteksi dan sangat sulit untuk membuat segala jenis senjata apapun dari hal itu.

Meskipun siklus thorium jauh lebih bersih, aman, efisien, dan lebih berkelanjutan dibandingkan uranium, Sorensen berpendapat bahwa keuntungan yang paling mendasar dari thorium adalah penggunaan biayanya yang lebih rendah dibandingkan reaktor lainnya. Semangat visionernya telah menempatkan thorium kembali dalam sorotan publik. “Tujuan akhir dari pembuktian potensi thorium adalah jaminan tercukupinya kebutuhan energi selama puluhan ribu tahun bagi sebuah dunia yang menggunakan thorium sebagai sumber energinya.”

Namun demikian, kritik skeptis terhadap hal ini tetap ada. Pemerhati masalah nuklir, Dr. Richard Broinowski, yang juga penulis buku “Fact or Fission? The Truth About Australia’s Nuclear Ambitions (Fakta atau Pemecahan? Kebenaran Sesungguhnya dari Ambisi Nuklir Australia)” menegaskan kembali tentang fakta dari penggunaan thorium tak lain adalah menghasilkan sebuah benda sekelas bom uranium. Dia mengatakan bahwa ada banyak propaganda tentang kekuatan nuklir dan penelitian terhadap keamanan reaktor generasi keempat (Gen IV) masih sangat teoritis dan belum dapat dibuktikan.”

Rencana energi global yang disarankan oleh MacKay untuk mengatasi dampak perubahan iklim disampaikannya dengan beberapa solusi, seperti pengenaan pajak bagi penghasil polusi, penciptaan alat penyerap dan penyimpan karbon, pengurangan tingkat konsumsi, dan lain-lain.

Mengingat setiap negara berbeda menggunakan berbagai solusi energi berdasarkan Energy in a Changing Climate permintaan dan ketersediaan sumber daya di masing-masing negara, tampaknya tenaga nuklir yang ada sekarang maupun yang ada dalam generasi berikutnya akan menjadi jawaban untuk menghadapi tantangan berat menghentikan pemanasan global, tak peduli kita setuju atau tidak. (Cassie Ryan/The Epoch Times/sun)

Comments